“Engkau mengira mereka sudah menyatu padu, padahal hati mereka tercerai-berai.”
(QS. Al Hasyr 59 : 14)
Banyak motif yang ingin dicapai orang dengan pernikahan. Selalu saja
ada harapan yang tersimpan terhadap pasangan, bahkan di balik sikap diam
sekalipun. Ada yang mengejar harta, rupa yang jelita, popularitas,
kehormatan, kedudukan dan lain-lain. Alasan-alasan demikian jamak kita
temukan pada kebanyakan manusia.
Tapi mukmin sejati jelas beda,
sama sekali beda. Sebab bagi orang beriman itu semua hanyalah
pernak-pernik duniawi yang kecil harganya. Sifatnya fana; lekas
diperoleh, cepat pula hilangnya. Orang yang dadanya sudah dipenuhi iman
tak bisa digoda oleh dunia yang tiada berharga.
Betapa gampang
mendapatkan orang cantik jelita atau gagah, tapi kelebihan itu pula yang
sering mendatangkan malapetaka. Bukankah banyak orang rupawan yang
merana saat kebanggaannya hilang dimakan usia atau hancur dimamah
musibah. Menggaet orang yang prestisius, ngetop atau terhormat di mata
manusia juga mudah. Tapi ini negara kejam, betapa banyak orang-orang
terkenal, hebat dan terhormat jatuh hina dina. Yang dahulu pusat
perhatian, sekarang tiada lagi dipandang.
Ternyata apa yang
didamba orang kebanyakan belum jaminan kokohnya mahligai rumah tangga.
Sekali lagi, hal yang demikian bagi hamba beriman fana belaka. Andai
Allah menakdirkan seorang mukmin menjadi laki-laki sempurna, maka dia
tak akan sudi menerima perempuan yang mengejar kelebihannya saja. Dia
tentu menolak dinikahi gara-gara embel-embel duniawi, bukan harap
keindahan kepribadiannya.
Kalaupun ada perempuan sempurna yang
punya semua kelebihan di atas, laki-laki mukmin tak akan
mengharapkannya. Perjuangan akan kurang maknanya untuk perempuan yang
demikian hebat. Masih banyak muslimah lain yang lebih berhak
diperjuangkan.
Manusia memang tidak pantas mengharapkan
kesempurnaan, sebab yang demikian itu mustahil ada di dunia ini. Namun
kita berhak meminta hati yang utuh dan tulus dari pasangan sah. Kalau
bisa diibaratkan, hati yang utuh bagaikan lingkaran yang bulat penuh itu
tidak sumbang sedikitpun. Jangankan separuh hati, tergores saja sedikit
maka dia tidak sempurna.
Pernikahan merupakan rute hidup yang
banyak masalah, silih berganti dan tiada pernah usai. Bagaimana mungkin
menghadapinya kalau hati suami istri tidak menyatu atau tidak kompak.
Gara-gara ia berbagi dengan yang lain, walau cuma secuil. Mungkin
permintaan begini rada-rada aneh, tapi itulah yang hakiki sebagai
pondasi utama dalam membina rumah tangga sakinah. Menikah sesungguhnya
menyatukan dua hati, bukan dua tubuh. Sebab yang dinikahi adalah hati
bukan tubuh. Kalau menyatukan dua fisik saja, apa bedanya dengan hewan?
Padahal kita manusia yang dilebihkan akal budi. Mengapa harus
merendahkan diri dengan sesuatu yang tiada bernilai di hadapan Allah.
Perkara hati adalah misteri yang paling rumit; hanya yang bersangkutan
dan Allah saja yang tahu. Oleh karena itu, saatnya jujur pada suara
nurani; sanggupkah memberikan hati yang sempurna bagi pasangan yang sah?
Sungguh malang jika suami atau istri hanya mendapatkan hati yang
compang-camping. Andai cuma dapat hati yang sumbing atau separuh, maka
bersiap memasuki takdir yang pahit. Inilah musibah terbesar bagi masa
depan cinta. Kemalangan terperih yang akan ditangisi sampai akhir hayat.
Sekaligus titik lemah paling berbahaya bagi mahligai rumah tangga.
Mengapa ngotot mempertanyakan? Secara kejiwaan hati manusia tidak bisa
berbagi. Sekali menerima seseorang di hatinya, dia tak akan lupa sampai
mati. Meski sudah punya pasangan yang mencintai atau keluarga yang
bahagia; dia tetap tak akan melupakan. Begitulah ajaibnya hati!
Laki-Laki Butuh Kekuatan Hati Wanita
Pria sebenarnya juga membutuhkan kekuatan hati wanita. Bahkan laki-laki
paling brutal dan ganaspun mengakuinya, seperti Hitler ataupun
Napoleon. Beberapa ulama terkemuka memilih langkah ekstrim tidak
menikah/tetap melajang (‘ulama al-‘uzzab) daripada hancur di tangan
wanita berhati lemah.
Nikah bukan bisnis yang mencari
keuntungan dari pasangan. Nikah itu perjuangan yang dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Hidup terlalu sederhana bila hanya untuk makan, minum,
tidur, buang air, nikah, cari uang, punya anak, tua, lantas mati.
Banyak hal yang bisa kita lakukan, yang bermanfaat bagi peradaban.
Bila tanpa keterpaduan hati secara utuh, bagaimana mungkin kuat
menghadapi masa depan. Bukankah tantangan hari esok jauh lebih berat
dari sekarang ini? Makanya sangat penting kekuatan hati dalam rangka
menjinakkannya.
Kalau azzam sudah tertanam tak ada yang perlu
ditakutkan. Resiko tertinggi dalam hidup hanyalah kematian, lagi pula
setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kendati setiap manusia matinya
berbeda-beda, tapi bisa wafat dalam nafas yang sama. Lebih baik mati
saat membela pasangan berhati mulia, daripada mati di istana tanpa
berjuang apa-apa.
Sebab nikah sama artinya memilih jalan
panjang bertabur onak duri. Ketika dua kutub sudah menyatu; banyak
perbedaan karakter, selera, cara pandang, sikap hidup sampai dengan hal
yang remeh temeh. Semua perbedaan akan menjadi bom waktu jika tidak
punya pondasi yang kokoh. Oleh karenanya kekompakan hati mutlak
dibutuhkan, jika tidak niscaya neraka dunia akan tercipta.
Cinta tidak akan runtuh begitu saja pada malam pertama. Cinta itu akan
datang setelah melalui proses dan penghayatan. Modal utamanya; rasa
percaya dan keyakinan. Tapi jika hati saja tidak menyatu atau tidak
utuh, apa modal suami istri selainnya? Ketahuilah bahwa hati yang utuh
akan melahirkan kekuatan dahsyat. Karena kekuatan hati, seseorang
berjuang menjadi sesuatu yang berharga di hati orang yang dipujanya. Dia
ingin mendapatkan kebanggaan di hadapan Allah karena membela pasangan
cinta sejati. Sehingga ia tak pernah berharap dengan puji sanjung atau
tak peduli caci maki manusia.
Dengan hati yang menyatu, langkah
hidup menjadi lebih bermakna, sebab hati akan letih dengan main-main.
Suami istri bisa saling mempersembahkan yang terbaik, di atas segala
kelemahan dan kekurangan diri. Mereka ingin merasakan ketenangan bersama
tambatan hati pautan cinta. Sesuatu yang abadi, bukan basa-basi apalagi
polesan luar belakang.
Wajarlah bila saling meminta itu satu hal
yang utama sebagai pondasi cinta. Lagi pula, yang dipinta itu hal yang
sederhana, bukankah semua orang punya hati? Salahkah mendambakannya dari
pasangan sendiri? Bukankah itu kunci aman mencegah perselingkuhan,
meski cuma perselingkuhan imajinasi dalam hati?
Banyak suami
istri yang hanya menjadi pasangan mesra saat pesta. Keharmonisan yang
artifisial mereka sajikan di depan umum. Suami yang begitu perhatian dan
melindungi, juga istri yang sangat kasih dan penyayang. Kedekatan yang
serba pura-pura sangat dipaksakan saat acara show time, apalagi di depan
kamera.
Kehangatan itu lenyap tanpa bekas saat pulang ke
rumah, yang meletus berikutnya adalah api egoisme pribadi. Sebab mereka
lupa bahwa pernikahan yang langgeng bukanlah kemana-mana selalu berdua.
Kebersamaan fisik belum jaminan menyatunya hati. Terbukti lagi bahwa
niat merupakan hal sangat penting sebagai landasan berumah tangga.
Apapun yang terjadi kita bisa kembali mempertanyakan niat semula.
Tidak pernah ada kata terlambat agar kembali menata hati. Ibarat
lingkaran, kita bisa kembali membuatnya bulat sempurna tanpa sumbing.
Seiring usaha gigih memberi pengertian pada diri, dialah belahan jiwa
yang harus diterima sepenuh hati. Bukan separuh nafas tetapi segenap
jiwa raga.
Dengan mengurangi keinginan terhadap pasangan, insya
Allah kita akan bisa menerimanya secara utuh di hati. Saatnya bersama
mengokohkan kembali pondasi utama rumah tangga, yaitu keterpautan hati
yang utuh.
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ....