Saya
lupa tepatnya tanggal berapa di mana dan jam berapa, tapi yang pasti
itu jam setelah maghrib dan di daerah rawamangun, Jakarta
Waktu itu saya sedang mencari ATM (Anjungan Teller Mandiri) Bank
Mandiri, bersama pacar saya dia yang menyetir mobil. Kebetulan ATM itu
berada di tempat yang mengharuskan memotong jalur lawan arah, kira-kira
begini deh
Sebenarnya tidak sulit untuk memotong jalur seperti
itu walau dalam keadaan jalan yang agak macet, tapi pacar saya tidak
lebih hati-hati untuk melihat situasi, jadilah dia menyerempet mobil
orang. Pintu kanan mobil pacar saya pun bengkok cukup parah dan sangat
terlihat pada pintu belakangnya, sedangkan mobil yang diserempet cuma
lecet.
Berdebat-berdebat antar kedua pemilik mobil jauh di luar
sana, entah mereka nego apaan saya nggak ngerti karena saya nungguin di
dalam mobil abisnya bingung. Akhirnya pacar saya masuk ke mobil dan
meminjam uang saya untuk ganti rugi pada orang yang diserempet nasib..
Akhirnya saya mengambil uang di ATM dan memberikannya (meminjamkan )
pada pacar saya. Setelah pacar saya pergi untuk memberikan uang tersebut
pada orang-yang mobilnya diserempet- itu, ada seorang ibu-ibu
menghampiri saya. Ibu itu meminta saya untuk memberikan sumbangan untuk
panti asuhan yang dikelola suatu yayasan. Saya pertamanya bingung, ini
kena lagi kena susah kenapa ada orang minta sumbangan:?: Dan tiba-tiba
saya pun teringat cerita guru les saya dulu, kalau dia pernah mendapat
berkah dengan bersedekah disaat susah. Akhirnya saya menyumbang Rp5.000
atas nama pacar saya.
Sekitar 5 menit setelah ibu itu pergi,
pacar saya pun kembali dengan wajah stress. Permasalahan antar pemilik
mobil memang sudah selesai, tapi permasalahan pacar saya belum selesai
karena mobil itu bukan benar-benar milik dia tapi punya mamanya. Makanya
dia pun stress membayangkan mamanya yang memarahi dia nantinya. Saya
pun berusaha menenangkan walau dia masih aja stress.
Esoknya
saya menanyakan pada pacar saya apakah dia sudah dimarahi atau belum.
Pacar saya malah tertawa dengan aneh karena ternyata orang rumahnya
termasuk mamanya nggak ada yang sadar kalau pintu belakang ada yang
bengkok! Saya bingung dan bertambah bingung karena pacar saya bilang
mobilnya saat itu sedang dibawa mamanya pergi ke puncak bersama papanya.
Alhasil pacar saya tidak jadi stress dan malah bingung kenapa tidak ada
yang sadar. Sekitar 2 hari kemudian, mamanya sudah pulang dan saya
kembali menanyakan bagaimana akhirnya pada pacar saya lewat telepon.
Pacar saya kembali tertawa karena ternyata mamanya belum sadar juga.
Saya pun ikutan bingung.
3 hari kemudian barulah bengkok mobil
itu ketahuan. Saya mengetahuinya ketika saya menanyakan pada pacar saya
lagi. Dan dia pun tidak dimarahi seperti bayangan dia sebelumnya.
Mamanya hanya mengomel sebentar dan berlalu layaknya tidak ada kejadian
apa-apa.
Saya takjub, , dan bertanya-tanya kenapa bisa seperti
itu. Padahal bengkok mobil itu bisa terlihat walau dari jauh sekalipun.
Tapi kenapa bisa nggak ketahuan selama 5 hari?
5 hari? Akhirnya
saya mengingat-ingat kembali kalau saya menyumbangkan uang Rp5.000 pada
ibu-ibu yayasan panti asuhan pada hari kejadian 5 hari sebelumnya. Saya
berpikir, apakah itu kekuatan dari jumlah yang saya sumbangkan atas
nama pacar saya? Atau hanya kebetulan belaka? Entahlah, memang cepat
atau lambat pintu yang bengkok itu akan ketahuan juga, tapi saya rasa
ketidaksadaran itu bukan kebetulan . Mungkin itu memang kekuatan dari
sedekah itu sehingga menutup mata orang rumah pacar say a untuk
menyadari akan bengkoknya pintu. Saya jadi berpikir kalau saya waktu itu
nyumbang Rp50.000, mungkin tidak akan ketahuan 10 hari kali ya, hehehe.
Yah, dari sini saya mendapat hikmah dari sini, bahwa di saat susah
sekalipun jangan pernah tinggalkan sedekah. Karena sedekah akan membawa
keberuntungan dan berkah.