Senin, 29 April 2013

Wanita itu Cantik atas dasar....???


Wanita itu Cantik atas dasar....???

Ada opini begini :

Nafsu mengatakan : "Wanita itu cantik atas dasar fisiknya."

Akal mengatakan : "Wanita itu cantik atas dasar ilmu dan kepintarannya."

Hati mengatakan : "Wanita itu cantik atas dasar akhlaknya."

Pilih yang mana ???

Tanggapan saya :
Keindahan fisik kan hilang cantiknya saat umur telah mulai menua...

Ilmu(Syariat) dan Kepintaran(science, dst) akan menghiasi akhlak jika di amalkan dengan benar.

Akhlak akan Proporsional jika di topang dengan Ilmu Syariat.
Bersikap tegas/keras pada tempatnya...
Bersikap lembut dan halus pada tempatnya...
Toleran pada tempatnya...
NO COMPROMISE pada tempatnya...

Tapi yang jelas terkait hal ini sebenarnya udah ada sunnahnya dari Rosululloh bahwa :
“Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

Empat hal tersebut merupakan faktor penyebab dipersuntingnya ­ seorang wanita dan ini merupakan pengabaran berdasarkan kenyataan yang biasa terjadi di tengah manusia, bukan suatu perintah untuk mengumpulkan perkara-perkara ­ tersebut, demikian kata Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah. Namun dzahir hadits ini menunjukkan boleh menikahi wanita karena salah satu dari empat perkara tersebut, akan tetapi memilih wanita karena agamanya lebih utama. (Fathul Bari, 9/164).

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “(فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ), maknanya : yang sepatutnya bagi seorang yang beragama dan memiliki muruah (adab) untuk menjadikan agama sebagai petunjuk pandangannya dalam segala sesuatu terlebih lagidalam suatu perkara yang akan tinggal lama bersamanya (istri). Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk mendapatkan seorang wanita yang memiliki agama di mana hal ini merupakan puncak keinginannya.” (Fathul Bari, 9/164)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata : “Dalam hadits ini ada anjuran untuk berteman/ bersahabat dengan orang yang memiliki agama dalam segala sesuatu karena ia akan mengambil manfaat dari akhlak mereka (teman yang baik tersebut), berkah mereka, baiknya jalan mereka, dan aman dari mendapatkan kerusakan mereka.” (Syarah Shahih Muslim, 10/52)

Dalam Agama Ada Syariat yang mengatur tentang Akhlak, maka Ilmu dan kepintaran sangat dibutuhkan untuk memahami Syariat. dan Akhlak adalah salah satu tolok ukur penerapannya Agamanya...

Jadi silahkan pilih, mana yang harus kita jadikan prioritas utama...
Wallohua'lam bisshowab

Semoga Bermanfaat

Sabtu, 27 April 2013

PACARMU ITU BUKAN ISTERIMU ATAU SUAMIMU.


Maaf Ya mbak-mbak.
Maaf Ya mas-mas.
Maaf Ya ukhti
Maaf Ya akhi
Hanya mau ngingetin saja !

Untuk kalian yang masih ingin PACARAN.
PACARMU itu bukan SUAMIMU.
PACARMU itu bukan ISTERIMU.
PACAR itu bisa datang dan pergi semaunya.
PACAR itu lebih banyak meninggalakan luka.
PACAR itu sering membuat hati kecewa.

Jadi..
Jangan mau kalau ada yang masih mau ngajak pacaran.
Terlalu besar akibatnya.
Sebelum ditepa sebuah penyesalan yang tak tersembuhkan.
Kalau belum siap nikah.
Mending puasa saja.
Biar nafsu bisa dikalahkan.
Kalau sudah siap menikah.
Lebih baik langsung menikah saja.
Baru setelah itu pacaran.
Yakin deh bakal dapat pahala.
Yakin deh bakal lebih indah.
Terhindar dari fitnah.
Hidup menjadi barokah.

Insya ALLAH..

Jumat, 26 April 2013

PENULISAN KATA "Aamiin" YANG BENAR.


Banyak yang kita temui diantara teman-teman ini yang salah dalam penulisan Aamiin. Ada yang menulis “amin“, “amiin”,
“aamin” bahkan tidak jarang juga ada yg menulis “Amien” Seperti kita ketahui Lafaz Aamiin diucapkan didalam dan diluar sholat. Diluar sholat ,aamiin diucapkan oleh orang yang mendengar doa orang lain.

Makna inilah yang paling kuat dibanding makna-makna lainnya seperti bahwa aamiin adalah salah satu nama dari asma Allah swt.

Membaca aamiin adalah dengan
memanjangkan a (alif) dan memanjangkan min, apabila tidak demikian akan menimbulkan arti lain.

Dalam Bahasa Arab, ada empat perbedaan kata “AMIN” yaitu :

- ”AMIN” (alif dan mim sama-sama pendek), artinya AMAN, TENTRAM

- “AAMIN” (alif panjang & mim pendek), artinya MEMINTA PERLINDUNGAN KEAMANAN

- ”AMIIN” (alif pendek & mim panjang), artinya JUJUR TERPERCAYA

- “AAMIIN” (alif & mim sama-sama panjang), artinya YA TUHAN, KABULKANLAH DOA KAMI

Terus Bagaimana dengan pengucapan atau Penulisan “ Amien“ ?

Sebisa mungkin untuk yang satu ini (Amien) dihindari, karena Ucapan “Amien” yang lazim dilafadzkan oleh penyembah berhala (Paganisme) setelah do'a ini sesungguhnya berasal dari nama seorang Dewa Matahari
Mesir Kuno: Amin-Ra (atau orang Barat menyebutnya Amun-Ra)

Marilah kita biasakan menggunakan kaidah bahasa yang benar dan jangan pernah
menyepelekan hal yang sebenarnya besar dianggap kecil...

--- Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam Tulisan ini ... Itu hanyalah dari kami ... dan kepada Allah SWT, kami mohon ampunan ... ----

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...

Silahkan DI Bagikan/Share jika menurut sahabat status ini bermanfaat ....

Salam santun dan keep istiqomah ;)

Kamis, 25 April 2013

"Teriakan Seorang Istri Akibat Chatting


::::. Aku seorang gadis dari keluarga taat beragama dan ternama. Aku dididik di atas akhlak dan pendidikan Islam. Aku bukan gadis rendahan atau pencari hiburan. Aku tidak membayangkan suatu hari di mana aku melakukan perbuatan yang mengundang murka Allah. Aku menikah dengan seorang laki-laki yang dihormati. Dia mencintaiku dan aku mencintainya. Dia sangat mempercayaiku, sangat memanjakanku. Bahkan keluargaku dan beberapa kerabat mengakui bahwa aku sangat dimanjakan oleh suami. Kemanjaan yang belum pernah didapatkan oleh seorang istri di manapun.

::::. Aku tidak pernah ingat bahwa aku pernah meminta sesuatu kepada suami, tapi dia menolaknya dengan mengatakan’tidak’. Semua yang aku minta, dia penuhi. Sampai tibalah hari ketika aku memintanya memasang internet.

::::. Pertama kali dia menjawab, “Menurutku, itu kurang baik dan kurang cocok bagimu, karena kamu telah bersuami.” Tapi aku berhasil membujuknya, dan dia pun menghadirkannya. Aku bersumpah kepadanya tidak akan menyalahgunakannya.

Dia setuju. (Seandainya saja dia tidak setuju). Aku masuk dunia internet dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Suamiku pergi bekerja dan aku mejelajahi internet setiap hari. Kadang-kadang juga ketika dia ada di rumah. Dia tidak pernah bertanya apa yang aku lakukan, karena dia percaya kepadaku.

Hari berlalu… seorang temanku pengguna internet menceritakan kepadaku tentang chatting. Dia berkata kepadaku bahwa itu sangat mengasyikkan. Orang orang saling berbicara selama berjam-jam tanpa terasa. Pertama kali aku hanya menganggapnya perbincangan sambil lalu. Saat itulah aku mengenal seseorang. Kami setiap hari chatting. Orang ini berakhlak mulia. Belum pernah aku menemukan orang seperti dia di antara orang-orang yang chatting denganku. Berjam-jam aku dan dia chatting.

Suamiku menghampiriku, melihatku dan dia marah karena waktuku habis hanya di depan internet. Walaupun aku mencintai suamiku clan aku belum meli hat cinta seperti cintaku kepadanya. Akan tetapi aku juga mengagumi, hanya mengagumi, orang yang ber bincang denganku lewat chatting.

Dengan berjalannya waktu kekagumanku kepa danya berubah menjadi cinta yang mengalahkan cinta ku kepada suamiku. Aku berlari dari kemarahan suami ku ke internet untuk berbincang kepadanya. Dalam satu kesempatan, aku kehilangan kontrol. Aku bertengkar dengan suamiku. Akibatnya dia memutus internet dan mengeluarkan komputer dari rumah.

Aku marah kepada suamiku, karena untuk pertama kalinya dia marah kepadaku. Aku membalasnya dengan memutuskan untuk berbicara dengan orang itu melalui telepon. Padahal sebelumnya aku telah meno laknya, meski berkali-kali dia meminta itu kepadaku.

Di malam yang sial itu aku meneleponnya. Aku berbicara dengannya. Inilah awal pengkhianatanku kepada suamiku. Setiap suami keluar, aku langsung menelepon dan berbicara dengannya.
Dia berjanji menikahiku, jika suamiku mencerai kanku. Dia meminta, bahkan ngotot, bertemu dengan ku. Akhirnya aku terseret oleh keinginannya, aku mene­muinya. Bahkan sering, sampai aku terjerumus ke da lam dosa istri terbesar kepada suaminya.

Terjalinlah hubungan haram di antara kami. Aku benar-benar mencintainya. Aku putuskan untuk meminta cerai kepada suamiku. Suamiku bertanya, ada apa? Semakin banyak masalah antara aku dan suamiku. Aku tidak tahan dan aku semakin membencinya.

Selanjutnya, suamiku mulai mencurigaiku dan menyelidiki urusanku. Suatu ketika dia menemukan bukti bahwa aku telah berbicara dengan seorang laki-laki melalui telepon. Dia menginterogasiku, dan akhir nya aku mengakui hal yang sebenarnya. Aku berkata, “Aku tidak menginginkannya dan benci hidup bersama-nya.“

Walaupun demikian suamiku tetap bersikap baik kepadaku. Dia tidak membuka aibku atau melaporkannya kepada keluargaku. Dia berkata kepadaku. “Aku mencintaimu. Aku tidak bisa terus begini bersamamu, wahai anak manusia. Semoga Allah menutup kesalahan kita dan kesalahanmu. Akan tetapi kamu harus mengatakan kepada keluargamu, bahwa kamulah yang tidak ingin hidup bersamaku.”

Aku membencinya hanya karena persoalan sepele seputar internet. Dia bukanlah orang yang memperlaku kanku dengan buruk, bukan orang yang bakhil kepada ku dan tidak pernah melalaikan apapun terhadapku. Hanya karena dia mengatakan, “Aku tidak ingin ada internet di rumahku.” Aku lalu membencinya.

Sungguh, aku telah buta. Aku tidak mengetahui semua, itu kecuali ketika nasi telah menjadi bubur. Aku kembali kepada laki-laki selingkuhanku itu. Kami terus bertemu dan bermain.

Dia tidak melamarku, maka kami bertengkar. Aku katakan kepadanya, “Jika kamu tidak melamarku, maka aku akan meninggalkanmu.”

Dengan tenang dia menja wab,

“Wanita tolol, bagaimana kamu percaya ketika aku berkata kepadamu bahwa aku tidak bisa mengenal selainmu. Dan aku bersumpah aku tidak pernah bertemu dengan wanita yang lebih manis darimu. Kamulah wanita termanis yang pernah aku jumpai dalam hidup ku. Kedua… seandainya aku menikah, maka aku tidak akan menikahi wanita yang mengenal orang lain selain diriku, atau seorang wanita yang aku kenal melalui cara yang salah, seperti chatting. Lebih-lebih wanita berumur dan berakal sepertimu. Seandainya aku berpikir untuk menikah melalui chatting, niscaya aku akan memilih gadis remaja yang bisa aku bentuk sesuai keinginanku. Bukan sepertimu, yang sudah bersuami dan berani mengkhianati suaminya.”

Aku bersumpah kepada kalian, itulah kata-kata nya. Ucapannya aku menukilkan kepada kalian, seperti dia mengatakannya kepadaku. Aku tidak berbohong. Tidak menambah dan tidak pula mengurangi, tidak satu kata pun. Aku sekarang sangat bingung. Sering aku ber pikir untuk bunuh diri. Aku memohon kepada Allah agar memberikan petunjuk dan menjauhkanku dari jalan kegelapan.

Nasihatku kepada seluruh ukhti muslimah, agar kalian menjaga apa yang telah kalian cintai. Jangan tertipu oleh bualan banyak pemuda yang mengambil kesempatan melalui chatting untuk menjerumuskan para gadis, bahkan para wanita yang telah bersuami. Hal ini lebih mudah bagi mereka daripada pembicaraan jorok di pasar, sekaligus sebagai peluang besar untuk menjerat para wanita demi memenuhi nafsu mereka.

Kenyataannya kadang-kadang gelap dan samar. Beginilah apabila kedunguan, kerendahan serta mengi kuti hawa nafsu berkumpul dalam satu pihak, ditambah kelicikan dan keburukan di pihak lain.

Marilah kita berdoa kepada Allah agar membe baskannya dari kesulitannya dan menerima taubatnya. Sesungguhnya taubat Allah itu tidak berbatas dan meliputi segala sesuatu. Kita juga mendoakan laki-laki itu agar menghapus kesalahannya dan kembali ke jalan yang lurus, karena Allah memberi kesempatan dan tidak melalaikan.

Dan barangsiapa tidak bertaubat kepada-Nya dengan segera sebelum kematian menjem putnya, maka bisa saja Allah mengujinya pada dirinya atau kehormatanya di dunia, atau Allah menunda adzabnya di Akhirat. Dalam hal ini keduanya sama-sama merugikan."

HAI HAII