Pasangan muda yang baru menikah menempati rumah di sebuah komplek perumahan.
Suatu pagi, sewaktu sarapan, si istri melalui jendela kaca. Ia melihat tetangganya sedang menjemur kain.
"Cuciannya kelihatan kurang bersih ya", kata sang istri.
"Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci pakaian dengan benar.
Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih bagus."
Suaminya menoleh, tetapi hanya diam dan tidak memberi komentar apapun.
Sejak hari itu setiap tetangganya menjemur pakaian, selalu saja sang
istri memberikan komentar yang sama tentang kurang bersihnya si tetangga
mencuci pakaiannya.
Seminggu berlalu, sang istri heran melihat
pakaian-pakaian yang dijemur tetangganya terlihat cemerlang dan bersih,
dan dia berseru kepada suaminya:
"Lihat, sepertinya dia telah belajar bagaimana mencuci dengan benar. Siapa ya kira-kira yang sudah mengajarinya? "
Sang suami berkata, "Saya bangun pagi-pagi sekali hari ini dan membersihkan jendela kaca kita."
Dan begitulah kehidupan.
Apa yang kita lihat pada saat menilai orang lain tergantung kepada kejernihan pikiran (jendela) lewat mana kita memandangnya..
Jika HATI kita bersih, maka bersih pula PIKIRAN kita.
Jika PIKIRAN kita bersih, maka bersih pula PERKATAAN kita.
Jika PERKATAAN kita bersih (baik), maka bersih (baik) pula PERBUATAN kita.
Hati, pikiran, perkataan dan perbuatan kita mencerminkan hidup kita.
Jika ingin hidup kita berkembang, maju, dan sukses (bersih/baik) Maka
kita hrs menjaga hati, pkiran, perkataan dan Perbuatan kita tetap baik.
Karena itulah segalanya.
HATI menentukan PIKIRAN..
PIKIRAN menentukan PERKATAAN & PERBUATAN
Minggu, 30 Desember 2012
7 KALI BERHAJI NAMUN TIDAK PERNAH MELIHAT KA'BAH
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...
Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji. Segala perlengkapan sudah disiapkan.
Singkatnya ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. “Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah”. Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah).” Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya. Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan. Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita.
Tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitullah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya. Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap Ka’bah, kelak.
Anak yang saleh itu berniat akan kembali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya. Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka’bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka’bah.
Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya. Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. Kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji. Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka’bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka’bah, penglihatannya selalu normal.
Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya. Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat).
Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud. Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari hasan mau menelponnya. anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci.
Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya. “Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele,” kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon.
“Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit,” cerita Sarah akhirnya.
“Oh, bagus…..Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia,” potong ulama itu.
“Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram,” ungkapnya terus terang.
Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian. “Disana….” sambung Sarah, “Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka.” Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah. “Astagfirullah……” betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya. Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting. Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat menentukan dala perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi.
“Cuma itu yang saya lakukan,” ucap Sarah. “Cuma itu ? tanya ulama terperangah.
“Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !”. ucap ulama dengan nada tinggi.
“Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?” tanya ulama itu lagi sedikit kesal.
“Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati.”
“Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia,” kata ulama. “Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir.”
“Maksudnya ?”. tanya ulama tidak mengerti.
“Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati.” “Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan.”
Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah. “Cuma itu yang kamu lakukan ? Masya Allah….!!! Saya tidak bisa bantu anda. Saya angkat tangan”.
Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu.
Akhirnya ulama itu berkata, “Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda.”
Bumi menolaknya ...
Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah t elah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri.
Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu. “Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad,” ujar Hasan. Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut. “Bagaimana ibumu meninggal, Hasan ?”. tanya ulama itu.
Hasanpun akhirnya bercerita : Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit. Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang.
Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri. Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya,” Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!”. kata orang itu. Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya.
Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya. “Aku minta supaya kau jangan menengok ke belakang, sampai tiba di rumahmu, “pesan lelaki itu. Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan kenazah ibunya. Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langka h seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu. Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar.
Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu. Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin Allah akan hilang. Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.
Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji. Segala perlengkapan sudah disiapkan.
Singkatnya ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. “Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah”. Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah).” Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya. Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan. Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita.
Tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitullah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya. Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap Ka’bah, kelak.
Anak yang saleh itu berniat akan kembali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya. Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka’bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka’bah.
Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya. Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. Kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji. Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka’bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka’bah, penglihatannya selalu normal.
Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya. Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat).
Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud. Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari hasan mau menelponnya. anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci.
Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya. “Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele,” kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon.
“Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit,” cerita Sarah akhirnya.
“Oh, bagus…..Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia,” potong ulama itu.
“Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram,” ungkapnya terus terang.
Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian. “Disana….” sambung Sarah, “Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka.” Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah. “Astagfirullah……” betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya. Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting. Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat menentukan dala perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi.
“Cuma itu yang saya lakukan,” ucap Sarah. “Cuma itu ? tanya ulama terperangah.
“Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !”. ucap ulama dengan nada tinggi.
“Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?” tanya ulama itu lagi sedikit kesal.
“Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati.”
“Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia,” kata ulama. “Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir.”
“Maksudnya ?”. tanya ulama tidak mengerti.
“Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati.” “Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan.”
Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah. “Cuma itu yang kamu lakukan ? Masya Allah….!!! Saya tidak bisa bantu anda. Saya angkat tangan”.
Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu.
Akhirnya ulama itu berkata, “Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda.”
Bumi menolaknya ...
Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah t elah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri.
Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu. “Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad,” ujar Hasan. Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut. “Bagaimana ibumu meninggal, Hasan ?”. tanya ulama itu.
Hasanpun akhirnya bercerita : Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit. Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang.
Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri. Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya,” Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!”. kata orang itu. Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya.
Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya. “Aku minta supaya kau jangan menengok ke belakang, sampai tiba di rumahmu, “pesan lelaki itu. Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan kenazah ibunya. Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langka h seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu. Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar.
Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu. Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin Allah akan hilang. Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.
Jumat, 28 Desember 2012
Mayat si Kecil nan Cantik dalam Pelukan Ibunya (Kisah nyata)
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Hari ini melelahkan sekali, aku harus berganti kereta sampai 2 kali, dari arah Depok menuju stasiun Kota, dari stasiun Kota nyambung lagi dengan kereta Patas arah Angke sampai stasiun Merak. Tapi karena jadwal kereta kadang tidak jelas, harusnya kereta Patas berangkat pukul 10 tapi jadi molor jauh tidak jelas pukul berapa kereta harus berangkat (mirip lagu Iwan Fals).
Sesaat aku duduk di gerbong yang tidak terlalu padat, disisiku ada seorang ibu yang menggendong anaknya sepertinya sedang terlelap. Karena jenuh menunggu kereta tidak berangkat-berangkat, akhirnya untuk mengusir rasa kejenuhan aku mencoba mengajak ngobrol ibu yang menggendong anaknya tepat disebelahku.
Aku : “Ibu, ini anak ibu?”
Ibu : “Iya, neng”. Menjawab dengan tanpa ekrspresi dan aku semakin penasaran.
Aku : “cantik ya bu, anaknya”. Terlihat sekali anak itu didandani dengan bedak dengan baju warna pink serta sedikit celak dimatanya.
Ibu : “Terima kasih, neng”. Masih tanpa ekspresi. Lalu ku lanjutkan pertanyaanku.
Aku : “Mau kemana, bu?”.
Ibu : “Ke daerah Rangkasbitung”. Sambil menyebutkan suatu daerah di Rangkasbitung.
Aku : “Wah, jauh ya bu”.
Ibu : “Iya, neng”. Masih dalam ekspresi tak jelas.
Kereta sudah 1 jam lamanya tapi belum jalan juga, katanya ada banjir di daerah Tanah Abang, otomatis perjalanan kereta sementara banyak yang tertunda.
Anak dalam pangkuan si ibu tadi masih dengan tenang dalam pelukan ibunya, padahal penumpang semakin sesak terasa tak nyaman dan mulai panas. Aku kembali penasaran kok bisa anak sekecil itu tetap tenang dalam keadaan kereta yang sangat panas tak ada penyejuk sekedar kipas angin saja.
Aku : “Bu, kok anaknya anteng ya..padahal panas gini”. Aku kembali membuka pembicaraan.
Tiba-tiba si ibu menangis….
Aku : “Bu, maaf…ada yang salah dengan kata-kata saya”. Tanyaku semakin penasaran.
Ibu : “Tidak, neng…ibu sedih sekali”. Dia sepertinya mulai membuka diri padaku.
Aku : “Kenapa sedih, bu?”.
Ibu : “Maaf, neng…tolong setelah ibu ceritakan semuanya jangan katakan pada siapapun, pada penumpang maupun kondektur. Neng, mau janji?”.
Aku sangat penasaran cerita apa yang akan disampaikan si ibu, sampai berpesan jangan sampai menceritakan pada penumpang kereta dan kondektur. Apa hubungannya mereka dengan si ibu ini.
Aku : “Insyallah, bu. Saya tidak akan menyampaikan kembali cerita yang akan ibu bagi pada saya”.
Ibu : “Terima kasih neng, sebelum dan sesudahnya.” Kemudian aku menyimak isi cerita si ibu.
Sudah satu minggu ini anaknya sakit panas tapi si ibu hanyalah pemulung yang mengais rizki lewat sampah-sampah yang berserakan. Penghasilan yang tidak menentu. Kalaupun dapat uang dari hasil menjual sampah plastiknya, itupun tak seberapa hanya cukup untuk makan. Dia tidak punya tempat tinggal tetap, kadang tidur di emperan atau di bawah jembatan layang.
Si ibu ingin sekali membawa anaknya ke dokter tapi dia tak memiliki uang, karena dia bukan warga DKI Jakarta dan tak memiliki KTP DKI jadi dia tidak mendapatkan jaminan apa-apa. Si kecil anaknya hanya diobati ala kadarnya tapi ternyata penyakitnya tak kunjung sembuh. Sampai subuh tadi akhirnya si kecil dalam pangkuannya meninggal dunia.
Setelah meninggalpun dia bingung, kalau harus dikubur di Jakarta, ongkos untuk menguburkannya pun dia tak punya cukup uang. Dan bila dia bawa ke kampungnya yang cukup jauh dari kota Jakarta dengan menggunakan mobil jenazah, itupun tak cukup ada uang, dibutuhkan uang sekitar Rp 1.000.000,-. Uang sebesar itu kata si ibu sangat besar dalam ukuran dia.
Akhirnya, lewat bantuan para gelandangan dan pemulung terkumpullah uang sebesar Rp 250.000,- uang sebesar itu cukup untuk membawa si kecil ke kampung halamannya dan dikuburkan disana yang tidak memakan biaya besar.
Aku benar-benar tercengat dengan penuturan si ibu, lalu atas seizin si ibu ku pegang tangan si kecil nan cantik dalam pelukan ibunya. Subhanallah…benar ya Robb, tangan mungil itu begitu dingin tak ada denyut nadi disana. Ku cium dengan lembut keningnya, amat dingin tak ada jiwa disana. Ya Robb, si kecil nan cantik itu tertidur damai dalam pelukan si ibu yang amat menyayanginya.
Aku tak dapat menahan haru, ingin rasanya ku peluk dia dan ibunya. Begitu sulitnya hidup ini sampai akhir hayatnya pun si kecil nan cantik itu tak merasakan keramahan negeri ini. Aku hanya terdiam dan menatap haru, sungguh ingin rasanya aku berteriak pada negeri ini.
Wahai penguasa nan congak dan sombong, lihat… ada rakyatmu yang begitu menderita. Terbelenggu dalam kemiskinan dan keangkuhanmu. Tak bisakah kau membuka mata hatimu, tetapi kepongahan terus menjalar dihatimu.
Si ibu, tak pernah meyalahkan siapapun dengan keadaanya, dia hanya mengatakan “ini takdir Tuhan”.
Kereta sesaat melaju, aku kini terdiam tanpa kata. Tak ada pertanyaan yang membuatku penasaran, kini sudah aku dapatkan jawaban dari keterdiaman si ibu dan indahnya tidur panjang si kecil nan cantik.
(Kisah nyata dari perjalananku, antara Stasiun Kota dan Parungpanjang).
27 Desember 2012 / 07:08 WIB
by: Titin Sulistiawati
Semoga bermanfaat utk kita jadikan sebagai bahan renungan bersama.
Hari ini melelahkan sekali, aku harus berganti kereta sampai 2 kali, dari arah Depok menuju stasiun Kota, dari stasiun Kota nyambung lagi dengan kereta Patas arah Angke sampai stasiun Merak. Tapi karena jadwal kereta kadang tidak jelas, harusnya kereta Patas berangkat pukul 10 tapi jadi molor jauh tidak jelas pukul berapa kereta harus berangkat (mirip lagu Iwan Fals).
Sesaat aku duduk di gerbong yang tidak terlalu padat, disisiku ada seorang ibu yang menggendong anaknya sepertinya sedang terlelap. Karena jenuh menunggu kereta tidak berangkat-berangkat, akhirnya untuk mengusir rasa kejenuhan aku mencoba mengajak ngobrol ibu yang menggendong anaknya tepat disebelahku.
Aku : “Ibu, ini anak ibu?”
Ibu : “Iya, neng”. Menjawab dengan tanpa ekrspresi dan aku semakin penasaran.
Aku : “cantik ya bu, anaknya”. Terlihat sekali anak itu didandani dengan bedak dengan baju warna pink serta sedikit celak dimatanya.
Ibu : “Terima kasih, neng”. Masih tanpa ekspresi. Lalu ku lanjutkan pertanyaanku.
Aku : “Mau kemana, bu?”.
Ibu : “Ke daerah Rangkasbitung”. Sambil menyebutkan suatu daerah di Rangkasbitung.
Aku : “Wah, jauh ya bu”.
Ibu : “Iya, neng”. Masih dalam ekspresi tak jelas.
Kereta sudah 1 jam lamanya tapi belum jalan juga, katanya ada banjir di daerah Tanah Abang, otomatis perjalanan kereta sementara banyak yang tertunda.
Anak dalam pangkuan si ibu tadi masih dengan tenang dalam pelukan ibunya, padahal penumpang semakin sesak terasa tak nyaman dan mulai panas. Aku kembali penasaran kok bisa anak sekecil itu tetap tenang dalam keadaan kereta yang sangat panas tak ada penyejuk sekedar kipas angin saja.
Aku : “Bu, kok anaknya anteng ya..padahal panas gini”. Aku kembali membuka pembicaraan.
Tiba-tiba si ibu menangis….
Aku : “Bu, maaf…ada yang salah dengan kata-kata saya”. Tanyaku semakin penasaran.
Ibu : “Tidak, neng…ibu sedih sekali”. Dia sepertinya mulai membuka diri padaku.
Aku : “Kenapa sedih, bu?”.
Ibu : “Maaf, neng…tolong setelah ibu ceritakan semuanya jangan katakan pada siapapun, pada penumpang maupun kondektur. Neng, mau janji?”.
Aku sangat penasaran cerita apa yang akan disampaikan si ibu, sampai berpesan jangan sampai menceritakan pada penumpang kereta dan kondektur. Apa hubungannya mereka dengan si ibu ini.
Aku : “Insyallah, bu. Saya tidak akan menyampaikan kembali cerita yang akan ibu bagi pada saya”.
Ibu : “Terima kasih neng, sebelum dan sesudahnya.” Kemudian aku menyimak isi cerita si ibu.
Sudah satu minggu ini anaknya sakit panas tapi si ibu hanyalah pemulung yang mengais rizki lewat sampah-sampah yang berserakan. Penghasilan yang tidak menentu. Kalaupun dapat uang dari hasil menjual sampah plastiknya, itupun tak seberapa hanya cukup untuk makan. Dia tidak punya tempat tinggal tetap, kadang tidur di emperan atau di bawah jembatan layang.
Si ibu ingin sekali membawa anaknya ke dokter tapi dia tak memiliki uang, karena dia bukan warga DKI Jakarta dan tak memiliki KTP DKI jadi dia tidak mendapatkan jaminan apa-apa. Si kecil anaknya hanya diobati ala kadarnya tapi ternyata penyakitnya tak kunjung sembuh. Sampai subuh tadi akhirnya si kecil dalam pangkuannya meninggal dunia.
Setelah meninggalpun dia bingung, kalau harus dikubur di Jakarta, ongkos untuk menguburkannya pun dia tak punya cukup uang. Dan bila dia bawa ke kampungnya yang cukup jauh dari kota Jakarta dengan menggunakan mobil jenazah, itupun tak cukup ada uang, dibutuhkan uang sekitar Rp 1.000.000,-. Uang sebesar itu kata si ibu sangat besar dalam ukuran dia.
Akhirnya, lewat bantuan para gelandangan dan pemulung terkumpullah uang sebesar Rp 250.000,- uang sebesar itu cukup untuk membawa si kecil ke kampung halamannya dan dikuburkan disana yang tidak memakan biaya besar.
Aku benar-benar tercengat dengan penuturan si ibu, lalu atas seizin si ibu ku pegang tangan si kecil nan cantik dalam pelukan ibunya. Subhanallah…benar ya Robb, tangan mungil itu begitu dingin tak ada denyut nadi disana. Ku cium dengan lembut keningnya, amat dingin tak ada jiwa disana. Ya Robb, si kecil nan cantik itu tertidur damai dalam pelukan si ibu yang amat menyayanginya.
Aku tak dapat menahan haru, ingin rasanya ku peluk dia dan ibunya. Begitu sulitnya hidup ini sampai akhir hayatnya pun si kecil nan cantik itu tak merasakan keramahan negeri ini. Aku hanya terdiam dan menatap haru, sungguh ingin rasanya aku berteriak pada negeri ini.
Wahai penguasa nan congak dan sombong, lihat… ada rakyatmu yang begitu menderita. Terbelenggu dalam kemiskinan dan keangkuhanmu. Tak bisakah kau membuka mata hatimu, tetapi kepongahan terus menjalar dihatimu.
Si ibu, tak pernah meyalahkan siapapun dengan keadaanya, dia hanya mengatakan “ini takdir Tuhan”.
Kereta sesaat melaju, aku kini terdiam tanpa kata. Tak ada pertanyaan yang membuatku penasaran, kini sudah aku dapatkan jawaban dari keterdiaman si ibu dan indahnya tidur panjang si kecil nan cantik.
(Kisah nyata dari perjalananku, antara Stasiun Kota dan Parungpanjang).
27 Desember 2012 / 07:08 WIB
by: Titin Sulistiawati
Semoga bermanfaat utk kita jadikan sebagai bahan renungan bersama.
Rabu, 26 Desember 2012
Nasehat
-Diam Membuat Kita Mati, Bergerak Membuat Kita Hidup !!-
Sedikit pengantar….Untuk masakan Jepang, kita tau bahwa ikan salmon akan lebih enak untuk dinikmati jika ikan tsb masih dalam keadaan hidup saat hend ak diolah untuk disajikan, Jauh lebih nikmat dibandingkan dgn ikan salmon yg sudah diawetkan dgn es.
Itu sebabnya para nelayan selalu memasukkan salmon tangkapnya ke suatu kolam buatan agar dalam perjalanan menuju daratan, salmon-salmon tsb tetap hidup.
Meski demikian pada kenyataannya banyak salmon yg mati di kolam buatan tsb, akhirnya terfikirkanlah…..
Bagaimana caranya mereka menyiasatinya?
Para nelayan itu memasukkan seekor hiu kecil di kolam tsb.
Ajaib!!
Hiu kecil tsb “memaksa ” salmon-salmon itu terus bergerak karena jangan sampai dimangsa.
Akibatnya jumlah salmon yg mati justru menjadi sangat sedikit.
Pesan Moral:
Diam membuat kita mati !!
Bergerak membuat kita hidup !!
Barangkali kurang lebih itulah pesan moral yg dapat kita tangkap dari gambaran diatas.
Apa yg membuat kita diam?
Saat tidak ada masalah dalam hidup & saat kita berada dalam zona nyaman.
Situasi seperti ini kerap membuat kita terlena.
Begitu terlenanya sehingga kita tidak sadar bahwa kita telah mati.
Ironis , bukan?
Apa yg membuat kita bergerak?
Masalah, Pergumulan & Tekanan Hidup.
Saat masalah datang, secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif & berusaha bagaimana mengatasi semua masalah itu.
Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, & potensi diri kitapun menjadi berkembang luar biasa !!
Ingatlah, Bahwa kita akan bisa belajar banyak dalam hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kita menghadapi badai hidup.
Itu sebabnya syukurilah “Hiu Kecil” yg terus memaksa kita utk bergerak dan tetap survive !!
Sedikit pengantar….Untuk masakan Jepang, kita tau bahwa ikan salmon akan lebih enak untuk dinikmati jika ikan tsb masih dalam keadaan hidup saat hend ak diolah untuk disajikan, Jauh lebih nikmat dibandingkan dgn ikan salmon yg sudah diawetkan dgn es.
Itu sebabnya para nelayan selalu memasukkan salmon tangkapnya ke suatu kolam buatan agar dalam perjalanan menuju daratan, salmon-salmon tsb tetap hidup.
Meski demikian pada kenyataannya banyak salmon yg mati di kolam buatan tsb, akhirnya terfikirkanlah…..
Bagaimana caranya mereka menyiasatinya?
Para nelayan itu memasukkan seekor hiu kecil di kolam tsb.
Ajaib!!
Hiu kecil tsb “memaksa ” salmon-salmon itu terus bergerak karena jangan sampai dimangsa.
Akibatnya jumlah salmon yg mati justru menjadi sangat sedikit.
Pesan Moral:
Diam membuat kita mati !!
Bergerak membuat kita hidup !!
Barangkali kurang lebih itulah pesan moral yg dapat kita tangkap dari gambaran diatas.
Apa yg membuat kita diam?
Saat tidak ada masalah dalam hidup & saat kita berada dalam zona nyaman.
Situasi seperti ini kerap membuat kita terlena.
Begitu terlenanya sehingga kita tidak sadar bahwa kita telah mati.
Ironis , bukan?
Apa yg membuat kita bergerak?
Masalah, Pergumulan & Tekanan Hidup.
Saat masalah datang, secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif & berusaha bagaimana mengatasi semua masalah itu.
Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, & potensi diri kitapun menjadi berkembang luar biasa !!
Ingatlah, Bahwa kita akan bisa belajar banyak dalam hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kita menghadapi badai hidup.
Itu sebabnya syukurilah “Hiu Kecil” yg terus memaksa kita utk bergerak dan tetap survive !!
Renungan
.. Ya Allah
Betapa banyak karuniaMu
Betapa sedikit kami bersyukur
::::::: SEMENIT SAJA ::::::::::
Betapa besarnya nilai uang kertas senilai
Rp.100.000 apabila dibawa ke Masjid
untuk disumbangkan;
tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke
Mall untuk dibelanjakan!
Betapa lamanya melayani Allah selama
lima belas menit namun…
betapa singkatnya kalau kita melihat tv /film.
betapa sulitnya untuk mencari kata-kata
ketika berdoa (spontan) namun
betapa mudahnya kalau mengobrol atau
bergosip dengan teman
tanpa harus berpikir panjang-panjang.
Betapa asyiknya apabila pertandingan
bola diperpanjang waktunya ekstra
Namun kita mengeluh ketika khotbah di
masjid lebih lama sedikit daripada biasa.
Betapa sulitnya untuk membaca satu
lembar Al Qur'an tapi …
betapa mudahnya membaca 100 halaman
dari novel yang laris.
Betapa getolnya orang untuk duduk di
depan dalam pertandingan atau konser
namun …lebih senang berada di shaf
paling belakang ketika berada di Masjid
Betapa mudahnya membuat 40 tahun
dosa demi memuaskan nafsu birahi
semata, namun… alangkah sulitnya
ketika menahan nafsu selama 30 hari
ketika berpuasa.
Betapa sulitnya untuk menyediakan
waktu untuk sholat 5 waktu; namun
betapa mudahnya menyesuaikan waktu
dalam sekejap pada saat terakhir
untuk event yang menyenangkan.
Betapa sulitnya untuk mempelajari arti
yang terkandung di dalam Al Qur'an;
namun…
betapa mudahnya untuk mengulang-
ulangi gosip yang sama
kepada orang lain padahal bisa jatuh ke
dosa ghibah.
Betapa mudahnya kita mempercayai apa
yang dikatakan oleh koran namun
betapa kita meragukan apa yang
dikatakan oleh Quran.
Lantas...
di syurga mana kita pantas berharap
kepada Alloh.... ???
Yaa Arhamar Rohimin...
Irhamna...
Betapa banyak karuniaMu
Betapa sedikit kami bersyukur
::::::: SEMENIT SAJA ::::::::::
Betapa besarnya nilai uang kertas senilai
Rp.100.000 apabila dibawa ke Masjid
untuk disumbangkan;
tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke
Mall untuk dibelanjakan!
Betapa lamanya melayani Allah selama
lima belas menit namun…
betapa singkatnya kalau kita melihat tv /film.
betapa sulitnya untuk mencari kata-kata
ketika berdoa (spontan) namun
betapa mudahnya kalau mengobrol atau
bergosip dengan teman
tanpa harus berpikir panjang-panjang.
Betapa asyiknya apabila pertandingan
bola diperpanjang waktunya ekstra
Namun kita mengeluh ketika khotbah di
masjid lebih lama sedikit daripada biasa.
Betapa sulitnya untuk membaca satu
lembar Al Qur'an tapi …
betapa mudahnya membaca 100 halaman
dari novel yang laris.
Betapa getolnya orang untuk duduk di
depan dalam pertandingan atau konser
namun …lebih senang berada di shaf
paling belakang ketika berada di Masjid
Betapa mudahnya membuat 40 tahun
dosa demi memuaskan nafsu birahi
semata, namun… alangkah sulitnya
ketika menahan nafsu selama 30 hari
ketika berpuasa.
Betapa sulitnya untuk menyediakan
waktu untuk sholat 5 waktu; namun
betapa mudahnya menyesuaikan waktu
dalam sekejap pada saat terakhir
untuk event yang menyenangkan.
Betapa sulitnya untuk mempelajari arti
yang terkandung di dalam Al Qur'an;
namun…
betapa mudahnya untuk mengulang-
ulangi gosip yang sama
kepada orang lain padahal bisa jatuh ke
dosa ghibah.
Betapa mudahnya kita mempercayai apa
yang dikatakan oleh koran namun
betapa kita meragukan apa yang
dikatakan oleh Quran.
Lantas...
di syurga mana kita pantas berharap
kepada Alloh.... ???
Yaa Arhamar Rohimin...
Irhamna...
ALAM SEMESTA
... NAK, INILAH SEKOLAHMU : ... ALAM SEMESTA ...
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Perempuan itu berjalan mengitari kebun
kecilnya, kehamilannya menua membuat langkahnya tertatih. Maha benar
Allah saat manusia di perintahkan menghormati ibunya. “Ibumu
mengandungmu sembilan bulan dengan kepayahan yang bertambah-tambah”.
Sejenak ia berhenti dan mengehembuskan nafasnya, ditatanya lagi
pot-pot kecil. Dia tersenyum sambil berkacak pinggang. Hhhfff…Benih akan
bertumbuh menjadi pohon, berbunga dan berbuah. Memberi manfaat.
“Nak, kau dengar kan? Gemericik air yang kusiramkan di tanah berisi benih tadi?”
“..itulah kau sayang. Aku membentukmu sejak disini” . Dielusnya perut
buncitnya, kemudian dibiarkannya semua letih berseteru membentuk pegal
yang menyemut di kakinya. Ayunan didepan ‘padepokan kecil belakang
rumah’ menjadi tempatnya bersantai. Allah memberikan pahala padamu wahai
perempuan, surga! Dan kau mudah meraihnya dengan kesabaran.Sebagai
istri terlebih sebagai ibu.
“Nak, kau ingin aku
memperdengarkanmu apa? Sederet musik klasik yang katanya mencerdaskanmu?
Sebentar, Nak… ada yang akan membentukmu lebih cerdas dan kau takkan
bosan”
Diambilnya mushaf al-qur’an kecil dari dasternya lalu
lantunannya membuat sang janin 8,5 bulan itu bergerak-gerak menyambut
fitrahnya saat ruh ditiupkan padanya sejak empat bulan yang lalu.
Perjanjian dengan Allah : “Dan ingatlah ketika Tuhan-mu Mengeluarkan
keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah Mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka (seraya Berfirman), “Bukankah aku ini Tuhan-mu?
Mereka menjawab, “betul (Engkau tuhan kami), kami menjadi
saksi”…..(QS.Al-A’raaf:172)
“Kau tahu nak, aku telah
persiapkan pot-pot kecil berisi tanah dan benih serta sepetak kebun
disana. Aku menyebutnya laboratorium mini untukmu”
“Kelak kau
akan belajar dari tanah, bagaimana dia menumbuhkan dan menerima. Kau
akan belajar dari kesabarannya. Menerima apapun namun menumbuhkan apa
yang baik dengan izin Allah”
“Kau akan belajar , nak. Dan aku
akan membimbingmu. Bukan aku sendiri, Nak. Tapi ayahmu juga. Dia
memberimu keteguhan pula” perempuan itu tersenyum. Pendar merah muda di
kedua pipinya menyiratkan satu rasa bernama: bahagia.
Ah,
mengapa banyak perempuan enggan merasakan apa yang kurasakan sampai hari
ini? Berdiskusi kecil dengan calon khalifah Allah di bumi? Satu dari
sekian banyak generasi baru yang Allah ciptakan? Nak, aku
mencintaimu.Sungguh.Karena Penciptamu menyuruhku begitu.
Matahari berpendar kemerahan di ufuk barat. Senja menampakkan merahnya.
Siang ikhlas tergantikan perannya. Setelah kesibukan manusia diambang
batas waktu. ‘Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian
siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal ‘(QS.
Ali-Imran:190)
Perempuan itu memenuhi perannya yang lain.
Berbakti pada satu makhluk yang dipasangkan untuknya oleh Sang Khalik
dalam satu fase kehidupannya di bumi. Laki-laki itu membimbingnya
takzim. Penghormatan yang layak diberikan pada seorang makhluk yang
diciptakan oleh Rabb-nya untuk menjadi perhiasan terbaik.
Keteguhannya menjadikan semai cinta makin menjadi. Cinta karena Allah
begitu mereka sering menyebutnya. Berbalut romatisme perjuangan.
Keduanya khusyuk dalam dialog-dialog dengan Sang Raja Manusia. Rabb…
jadikanlah aku dan dzuriyahku mendirikan Sholat…
Sejoli
manusia itu larut dalam perenungan-perenungan tentang diri dan semesta.
Serambi belakang seumpama sepetak taman surga dunia, menumbuhkan cinta
menyemaikan harap yang bermuara pada satu : gerbang surga hakiki.
Perempuan itu memainkan manik-manik tasbih, Sang lelaki melantunkan lagi
nada-nada syahdu mengiringi firman-firman ilahi. Perempuan itu
tersenyum memandang langit.
“Nak, dengar, kali ini ayahmu melantunkan nada kasih untukmu”
“Nak, di bumi ibumu ini, waktu bernama malam telah menyapa. Mungkin
kau gelap disana, sayang. Tapi kegelapan itu menempatkamu pada fitrah
yang agung” nafas perempuan itu naik turun teratur. Efek psikologis dari
sebuah keadaan bernama: bahagia. Sang calon bayi
menyambutnya,menandak-nandak seolah mengatakan ,”Aku dengar, Bunda! Aku
dengar!” laki-laki itu tersenyum ,senyum teduh sang calon ayah.
“Nak, kelak kau akan melihat langit yang luas, bintang-bintang dan
rembulan dimalam hari dan matahari di siangnya.” Bisik perempuan itu
lagi, masih memainkan tasbihnya.
“Kau akan belajar sayang, dari semuanya. Sebab, Tuhan menyuruh kita begitu.”
“kau akan belajar bagaimana matahari yang selalu ikhlas memancarkan
sinarnya. Istiqomah menjalankan tugasnya, bahkan saat malam, bulan
meminjam sinarnya untuk menerangi langit”
“… Kau kuharap juga
menjadi bintang, sayang. Yang memiliki cahayanya sendiri meski ia nampak
kecil di mata manusia. Namun dia bintang, bukan bulan yang hanya
meminjam cahaya matahari.Sesuatu yang memiliki cahayanya sendiri akan
tetap ada dan ‘hidup’ meski tak selalu nampak besar”
“…..Namun kau tak boleh cukup menjadi bintang yang sendiri. Sebab, kau akan terjebak keangkuhan dan tak cukup memberi arti”
“Nah…. Lihat nak! Itu rasi bintang. Kelak bunda akan tunjukkan padamu.
Banyak macam namanya. Gugusan bintang itu memberi pedoman pada makhluk
di bumi. Pada nelayan, pada petani, pada pelaut. Manusia tidak bisa
sendirian mengubah dunia, sayang. Dia harus menjadi bintang-bintang yang
membentuk rasi.
Manusia harus bergandengan tangan dengan
orang lain. Agar cahayanya, kelebihan dan kekurangannya berpadu saling
mengisi sehingga makhluk dibumi akan mengambil manfaat dan menjadikan
mereka pemandu. Cahaya itulah hidayah dari Allah, sayang. Yang kau
bersaksi bahwa tiada tuhan selain-Nya sejak disini”
perempuan
itu mengelus perutnya. Kali ini dia tak lagi hanya berbisik, namun ia
menuliskan semua gumamnya.Pena dan kertas adalah teman sejarah. Sang
lelaki tersenyum. Aku makin mencintaimu.
Bunda aku
mencintaimu, sungguh! sebab di rahimmu aku tumbuh menjadi calon bintang
yang akan membentuk rasi bersama bintang-bintang lain sebayaku. Janin
itu menandak-nandak lalu tenang.
Bunda…. Bilakah aku melihat
wajahmu? Kubayangkan kau seteguh bunga mawar yang kita siram pagi tadi.
Maukah kau ceritakan padaku tentang bunga mawar bunda? Pasti kau akan
bercerita Bunda, sebagai satu mata ajar di sekolah peradaban kita
Satu bulan sepuluh hari kemudian ...
Selamat datang putri, tangismu menandai bahwa sekolah peradaban
untukmu telah resmi dibuka. Perempuan itu menangis.Tangis bahagia.
Tuhannya memberinya kesempatan untuk menjadi guru di salah satu ruang
sekolah peradaban:di rumahnya. Keajaiban itu berupa : perpindahan satu
fase kehidupan dari alam ruh ke alam rahim kemudian ke dunia. Oh,
Rabbi…. Semoga aku sanggup membimbingnya.
Laki-laki itu
terpana. Wahai, aku tak pernah bisa membayangkan sakit yang kau rasakan,
pejuang Kehidupan! Bukankah ini bukti bahwa perempuan lebih perkasa
dari laki-laki dengan kesabarannya? Bukankah ini bukan sebuah kelemahan
namun kelemahlembutan yang menumbuhkan ketegaran? Rabbi… pantas jika
surga ada dibawah telapak kaki seorang ibu. Aku menghormatimu lebih dari
sebelumnya, Ibu baru!
Enam tahun kemudian ...
Bersyukurlah karena Allah masih memelihara sekolah peradaban bagi
manusia: alam semesta. Dan rumah kita sebagai salah satu ruang kelasnya.
Tangan-tangan mungil itu memainkan sekop kecil. Tertawa-tawa kecil
mengeluarkan gumam-gumam khas bocah. Perempuan disampingnya tersenyum.
Biarkan saja dia berlumur tanah sebab dari itu dia tercipta. Biarkan
saja tangan-tangan kecil itu meraba, merasakan setiap tekstur tanah dan
semua alat peraga alami yang tampak didepan matanya.
Bukankah
pergesekan kulit nya yang lembut dengan tanah dan semesta akan
memberinya pelajaran baru? Biar saja. Jika ingin kehidupan ramah
padanya, maka jangan ciptakan permusuhan dengan alam semesta meskipun
hanya sepercik rasa takut.
Sebab jiwa murni itu sangat peka.
Kotoran di gamisku bisa dibersihkan, namun bekas kemarahanmu dihatinya
sulit dihilangkan. Begitu kira-kira kanjeng Rasul Muhammad mengajarkan
kita bagaimana bersikap lembut walau’hanya’ pada seorang bayi.*
Indera diciptakan untuk merasa, melihat, membau, mendengar,mengecap.
Alam semesta adalah sekolah kita. Biarkan dia mengerti bahwa tubuhnya
adalah pelajaran tak terperi. Suatu hari dia akan merasa dirinya adalah
bentukan terbaik.
Mulailah percakapan dua generasi memulai pelajaran hari ini: kehidupan.
“Mengapa Bunda mengubur biji itu dengan tanah?” gadis kecil bertanya.
Hmmm… kosakatanya yang kaya hasil dari kecerewetan perempuan
disampingnya.
“ha…ha.. ini me- na-nam, Sayang, bukan mengubur”
“Me-na-nam ? Untuk apa?”
“Agar dia tumbuh”
“Tapi biji itu tertutup tanah, Bunda”
“Iya, nak… tapi dia hidup..” Gadis enam tahun! Kuperkenalkan kau pada
penciptamu. Bertanyalah Sayang sebab telah kubiasakan kau sejak janin.
“Hidup? Dengan apa?”
“dengan air yang kita siramkan tadi, dengan pupuk,dengan udara”
“ Kau tau sayang?dahulu kamu pun ditanam begini” perempuan itu membentuk mimik selucu mungkin.
“ha..ha…ha….” gadis kecil itu tergelak.
“Aku, Bunda? He..he… dimana?”
“Hmmm… disini” perempuan itu menunjuk perutnya
Gadis itu melongo heran. Mungkin batinnya sedang menerka bagaimana
mungkin dia yang sebesar ini. ‘di-ta-nam’ di perut ibunya???
“Bunda-aaa! Nggak mungkin!Nggak cukup!”
“Kau dahulu sebesar benih ini nak, sayang” dijumputnya biji bunga matahari.
“Kau di tanam Allah di perut Bunda”
“Allah? Yang setiap hari kita berdo’a pada-Nya” perempuan itu
mengangguk.Oh… ananda. Benarlah kau lupa bahwa kau pernah bersaksi bahwa
Dia Tuhanmu. Kau harus tetap ingat, nak dengan perjanjian Agung itu.
Aku miris dengan sebayamu yang mungkin tak pernah lagi dikenalkan pada
Allah-nya saat dia lahir ke dunia
tiap-tiap anak lahir dalam keadaan suci (fitrahnya). Orang tuanya yang membentuknya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi
“hiii… pasti gelap ,ya, Bunda?”
“Iya… tapi kau tetap hidup, kan sayang? Menjadi anak Bunda yang pandai” perempuan itu memandangnya penuh cinta
“i..ya…. kok bisa, ya Bunda?” gadis itu mengikut ibunya, mengaduk-aduk
tanah, menyemai benih-benih bunga. Tangan kecilnya bergerak semampu dia
bisa.
“Karena Allah mencintaimu, sayang. Dia memberimu
makanan melalui bunda, dia menitipkan mu pada Bunda dan Ayah, untuk
merawatmu”
“ya! Ya! Seperti kita memberi pupuk dan air pada benih ini”
“Anak pintar!”
“Benih ini akan tumbuh sepertiku, kan Bunda?”
“Iya, sayang !menjadi bunga yang cantik. Kau akan senang melihatnya kelak seperti juga Bunda senang melihatmu tumbuh”
“mmm….. “ sang gadis kecil mencoba mengerti.
“kau akan senang melihat benih itu tumbuh perlahan-lahan setiap hari.
Karena kau merawatnya dengan baik. Allah menitipkannya pada kita”
“Tapi Allah tidak menyiraminya,kan bunda?!” Oh, gadisku aku harus menjawab apa lagi?
“Hmm…Memang. Tapi Allah yang memberi kehidupan untuk benih itu, untukmu, untuk Bunda untuk semua yang ada di alam”
“Bunda…. Akan merawatku juga? Seperti kita merawat bunga ini, iya kan
Bunda?” Perempuan itu mengangguk, dibasuhnya tangannya, dibimbingnya
gadis kecil itu membersihkan dirinya. Cukup untuk hari ini , Sayang.
Pelajaran kita tentang kehidupan. Kelak kau akan semakin tahu banyak
hal. Ini hanya permulaan.
Perempuan itu…. semoga aku! Setahun,
dua tahun, tiga tahun atau beberapa tahun lagi jika Allah menghendakiku
dan memandangku pantas menjadi salah satu pendidik di sekolah
peradaban-Nya: Alam semesta ; disalah satu ruang kelasnya;rumah
tanggaku! Dimana setiap sudutnya adalah serpihan-serpihan ilmu dan
hamparan pengetahuan untuk mencintai-Nya.
Dimana akan
kukenalkan generasi-generasi dari rahimku tentang mencintai Rabb-nya,
dimana disekolah peradaban itu….lulusannya tidak sekedar mendapat
selembar kertas bertuliskan ;lulus! Sebab Alam semesta menjanjikan
proses belajar yang tak henti. Selamat datang di sekolah peradaban kita:
Alam semesta, langit dan bumi yang hanya orang-orang yang berakal yang
dapat mengambil pelajaran.Wallahu a’lam bish-shawwab
*)
seorang bayi ‘pipis’ di gendongan Rasulullah Muhammad SAW kemudian
ibunya segera ‘merebutnya ‘ karena rasa hormatnya pada Rasulullah.
Kemudian rasulullah berkata yang kurang lebih seperti di atas.
Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah. ..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...
Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...
... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...
~ o ~
Salam santun dan keep istiqomah ...
--- Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan
ini ... Itu hanyalah dari kami ... dan kepada Allah SWT., kami mohon
ampunan ... ----
Kamis, 25 Oktober 2012
Selasa, 23 Oktober 2012
TES
PSIKOTES#
JAWABAN anda disini akan menentukan sifat dan watak anda
Ok silakan simak ilustrasinya
Anda saat ini ada di sebuah perempatan jalan
* jika anda melihat ke barat disana terlihat seekor harimau yang siap mengoyak tubuh anda jika anda bersikeras menempuh jalan itu
JAWABAN anda disini akan menentukan sifat dan watak anda
Ok silakan simak ilustrasinya
Anda saat ini ada di sebuah perempatan jalan
* jika anda melihat ke barat disana terlihat seekor harimau yang siap mengoyak tubuh anda jika anda bersikeras menempuh jalan itu
*jika anda melihat ke timur disana ada seekor ular besar yang sngat berbisa
*jika anda melihat kearah lain yaitu utara disana terdapat lautan luas tanpa kapal, perahu de el el (kyanya yg bisa berenang mending kesini)
*jika anda melihat ke arah selatan disana ada api yang sangat besar
Pikirkan anda akan menempuh jalan mana sedang kan berdiam diri adalah pilihan bodoh karena bisa saja kelaparan misalnya
Silakan pilih jawaban anda dan simpan dikomentar agar min bisa jelaskan watak kpribadian anda, melalui jawaban anda dari ilustrasi di atas !
Penjelasan akan min posting terpisah
Dan untuk penjelasan psikotes sebelumnya (kemarin) yang belum jelas boleh tanya lagi
@CUTE
*jika anda melihat kearah lain yaitu utara disana terdapat lautan luas tanpa kapal, perahu de el el (kyanya yg bisa berenang mending kesini)
*jika anda melihat ke arah selatan disana ada api yang sangat besar
Pikirkan anda akan menempuh jalan mana sedang kan berdiam diri adalah pilihan bodoh karena bisa saja kelaparan misalnya
Silakan pilih jawaban anda dan simpan dikomentar agar min bisa jelaskan watak kpribadian anda, melalui jawaban anda dari ilustrasi di atas !
Penjelasan akan min posting terpisah
Dan untuk penjelasan psikotes sebelumnya (kemarin) yang belum jelas boleh tanya lagi
@CUTE
Langganan:
Komentar (Atom)
-
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِارَّحْمَنِ ارَّحِيم Ketika muslimah jatuh cinta.. Biarkan cinta itu tersimpan dalam diam.. Jagalah cinta itu ...
-
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِارَّحْمَنِ ارَّحِيم Seorang Ibu hamil dan dokter pernah menunjukkan bagaimana efek ayat Al-Qur'an y...
-
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِارَّحْمَنِ ارَّحِيم Ketika seorang wanita itu menangis di hadapanmu, itu berarti dia tak dapat menahannya lag...

